Sistem Pembuangan Sampah
Published On Mon, 16 Aug 2010Halo teman-teman.
Gak semua orang terbiasa dengan istilah “membuang sampah pada tempatnya”. Jadi bagaimana? Sebenarnya dibutuhkan kesdaran sendiri untuk menyadari betapa berbahayanya sampah, tapi kalo ga sadar sadar juga? Mungkin harus ada sangsi dari pemerintah, mungkin loh.. Hehehe.
Nah, sekarang ayo kita baca artikel dibawah ini, siapa tau bikin sadar. :D
Pembuangan Sampah di Taipe
Buang sampah di Taipei mesti hati-hati loh, lihat dulu sampah apa yang mau kita buang dan tempat mana yang harus digunakan. Tidak sembarang tempat sampah bisa digunakan, ada pemisahan pembuangan sampah. Botol plastik harus dibuang ditempat botolo plastik, kaleng dengan kaleng, kertas dengan kertas dan sampah basah dengan sampah basah.
Truk pengangkut sampahpun kelihatan bersih dan tidak berbau karena sampah dibuang secara teratur. Pengolahannya pun menjadi mudah. Untuk sampah basah seperti bekas makanan diberikan ke peternakan babi sebagai makanan babi. Untuk sampah kering bisa dimanfaatkan untuk pembuatan souvenir atau direcycle dengan cara yang lain menjadi barang berguna. Sampah bukanlah suatu masalah, namun bisa menjadi sumber uang.
Masyarakat yang disiplin ini dilatarbelakangi oleh peraturan pemerinta kota Taipei. Jadi, pemerintah kota Taipe membagikan tong sampah yang berbeda-beda ini ke seluruh masyarakat. Tiap apartemen atau rumah mendapatkan 5 macam tempat sampah. Plastik harus beli sendiri dong.
Selanjutnya waktu pembuangan, kalo ketahuan ada yang mencampur sampah maka akan di denda sebesar 6500 NT (sekitar 1,8 juta rupiah).
Pembuangan Sampah di Jepang
Kira-kira setiap 6 bulan, pemerintah daerah melakukan penyuluhan mengenai sampah. Tiap daerah memiliki aturan yang berbeda-beda, namun secara umum diberlakukan pemisahan sampah menurut jenisnya. Pemisahan itu ditandai dengan kantong plastik yang berwarna khusus untuk masing-masing jenis, dan harus dibeli di supermarket. Jenisnya ada: sampah terurai, plastik, botol plastik, botol gelas, kertas dan karton, barang besar, hingga barang berbahaya semuanya diatur secara rinci…
Seperti jika teman-teman ingin membuang botol plastik, maka tutupnya harus dilepas dan membuangnya di “sampah terurai”, labelnya harus dicopot dan dimasukkan ke dalam tong “sampah plastik”, dan terakhir botolnya sendiri ke tong “sampah botol plastik”.
Masing-masing HARUS dibungkus dengan plastik resmi dari pemda menurut jenis-jenisnya, dan dibuang menurut hari yang ditentukan, atau tidak akan diambil oleh truk pengangkut sampah. Itu baru botol plastik, bagaimana dengan sampah-sampah yang lain?
Lalu jika ingin membuang barang yang beratnya lebih dari 5 kg, atau berukuran besar dan tidak bisa dimasukkan dalam plastik sampah, maka mereka harus membeli terlebih dahulu sebuah “tiket pengambilan” yang dijual di mini-market 24 jam. Untuk membuang microwave biayanya 600 yen (Sekitar Rp. 60.000), semakin besar maka semakin mahal. Hihihihi. Lalu setelah diletakkan di tempat sampah, maka mereka bisa menelpon kantor pemerintah kota agar mengambil sampah yang dimaksud.
Bagaimana sangsinya bagi yang melanggar? Well, tidak ada sangsi, yang jelas mereka akan malu sendiri sama tetangga-tetangga dan diri mereka. Hebaaattt...
Nah, teman-teman, mungkin memang kita belum bisa menerapkan hal begini secara merata di masyarakat kita, tapi, AYO KITA MULAI DARI DIRI SENDIRI... :D
Sumber: http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/02/28/sampah-buruknya-perilaku-masyarakat-dan-cara-pengelolaannya/












